Tampilkan postingan dengan label Transportation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transportation. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 14

Oinsa atu realiza sistema transporte ne'ebe ekolojiku

 Esforsu basiku liu atu realiza transportasaun ekolojiku maka esforsu ema ida nian atu prevene halo mobilizasaun ne’ebe la nesesaria (unnecessary mobility) ou utilizasaun rekursu teknolojia ne’ebe fo efeitu negativa ba ambiental hanesan hamenus utilizasaun ekipamentu ne’ebe uza sistema motor/makina. modulu seluk ne’ebe iha mos ligasaun ba esforsu realizasaun transporte ekolojiku maka hanesan dezenvolvimentu area integradu ne’ebe kategorikamente tama iha compact city hanesan area super-block, area mix-used zone no mos transit-oriented development.

Parte importante seluk atu minimiza ou reduz kuantidade numeru viajen maka bele uza jestaun nesesidade transporte (TDM- Transport Demand Management).

tuir mai hau sei ba esplika uituan konaba kontuidu hirak ne’ebe hau mensiona ona iha leten maka hanesan tuir mai ne’e:

Transit oriented development mak saida? transit orieted development katak revitalizasaun area tuan ou area integrada foun ne’ebe nia lokalidade iha area prinsipais hanesan area transporte nian hanesan busway, kumboiu nian no dezenvolve area mistura seluk ne’ebe fungsaun hanesan residensia, eskritoriu no komersiais. Ho asesu ne’ebe mak fasil no integradu hanesan komersial, residensia no eskritoriu no fasilidade publika sira seluk maka konseitu area TOD ne’e mai ho eskpetativa bot ida maka atu reduz nesesidade transporte no atu reduz utilizasaun veikulus privada motorizadas.

Normalmente, area TOD ne’ebe mak diak maka tengki iha radius minimu 400-800 m husi sentru terminal, ne’ebe distansia ne’e bele asesu ho lao ain.

Alende ne’e, jeralmente area TDM ne’e karakteriza ho fasilidade lao ain/pedestrian ne’ebe konfortabel, dalan ne’ebe ladun luan, area ne’ebe ladun fasilidade fatin parke ba transporte privadu.

Jestaun demanda ba transporte ou Transport Demand Management (TDM) normalmente nia aplikasaun barak liu liu husi regulamentu sira hanesan leis no estratejia transportasaun nian oinsa atu minimiza utilizasaun veikulu privadu ne’ebe barak liu atu amenta pezu ka todan ba moda transportasaun nian iha fatin no tempu nebe diferente iha fatin espesifiku nian. Jestaun ida ne’e relativamenete iha kategoria ne’ebe fasil no ekonomikamente baratu atu hasae no hadia sistema transportasaun. Aplikasaun TDM ne’e ho esperansa ida katak atu hasai diak liu tan kualidade ambiental, hasae saude publika, ho nune’e bele estimula no hasae kualidade ambiente iha komunidade no cidade nian.

Aplikasaun TDM ne’ebe fasil atu implementa maka hanesan:

  • Hasae kuantidade utilizasaun ride-sharing, three in one, car pooling nsst.
  • Fornese transporte publiku ne’ebe lais, baratu, konfortabel no bele asesu ba fatin hotu.
  • Fornese fasilidade ne’ebe sei dudu utilizasaun sistema transporte ne’ebe la uza motor hanesan fatin ba biskileta, fatin lao ain ne’ebe seguru no reduz dependensia ba kareta no motor.
  • kria oras servisu ne’ebe fleksibel no fahe oras servisu no oras eskola atu hamenus beban lalulintas iha oras sibuk.
  • Reduz utilizasaun transporte publiku liu husi produsaun plat limita ba area ida.
  • Aplika presu ne’ebe as ba fatin parke iha area CBD, aplika presu ba utilizasaun estrada ba transporte privadu.

Moda transporte ne’ebe ekolojiku mak hanesan tuir mai ne’e:

Pedestrian/ fatin lao ain: Konstrui fatin lao ne’ebe konfortabel sei reduz utilizasaun no dependensia ba utilizasaun motor no kareta privadu.

Biskleta: compact city no TOD konseitu ne’ebe fo prioride ba utilizasaun biskleta, ho distansia maximu la liu 800 m.

Moda transportasaun ekolojiku seluk tan maka hanesan hibrid car, eletric car nsst.

Senin, Agustus 24

Perwujudan Transportasi Ramah Lingkungan

 Upaya mewujudkan transportasi yang ramah lingkungan pada dasarnya dapat dilakukan dengan upaya mencegah terjadinya perjalanan yang tidak perlu (unnecessary mobility) atau dengan penggunaan teknologi angkutan yang dapat mengurangi dampak lingkungan akibat kendaraan bermotor. Bentuk-bentuk yang terkait dengan upaya pencegahan atau pengurangan jumlah perjalanan yang tidak perlu dapat berupa pengembangan kawasan terpadu yang masuk kategori compact city seperti kawasan super-block, kawasan mix-used zone, maupun transit-oriented development.

Selain itu, pengurangan jumlah perjalanan dapat dilakukan dengan melakukan manajemen kebutuhan transport (TDM- Transport Demand Management).

Transit Oriented Development (TOD). Transit Oriented Development adalah upaya revitalisasi kawasan lama atau kawasan terpadu baru yang berlokasi pada jalur-jalur transportasi utama seperti jalur KA, busway dll dengan mengembangkan kawasan berfungsi campuran (mixed-use) antara fungsi hunian, komersial dan perkantoran. Dengan akses yang mudah terhadap aktivitas hunian, komersial dan perkantoran serta jaringan transportasi umum yang terpadu dengan fasilitas pedestrian dan jalur sepeda, konsep kawasan TOD diharapkan dapat mengurangi kebutuhan pergerakan transportasi antar kawasan dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

Sebuah kawasan TOD umumnya memiliki pusat kawasan berupa stasiun kereta, metro, trem atau stasiun bus yang dikelilingi oleh blok-blok hunian, perkantoran atau komersial berkepadatan tinggi yang makin berkurang kepadatannya ke arah luar. Kawasan TOD umumnya memiliki radius 400-800m dari pusat terminal, yaitu dalam jarak yang masih dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Selain sifatnya yang mixed used, kawasan TDM umumnya dicirikan oleh fasilitas pejalan kaki yang sangat nyaman, penyeberangan, jalan yang tidak terlalu lebar, gradasi kepadatan bangunan ke arah luar. Kawasan ini juga umumnya membatasi jumlah lahan parkir untuk kendaraan pribadi.

Transport Demand Management (TDM) dilakukan melalui penerapan kebijakan dan strategi transportasi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan mendistribusikan beban transportasi yang ada ke dalam moda transport, lokasi dan waktu berbeda. Upaya ini dianggap merupakan penanganan transportasi yang relatif murah untuk meningkatkan tingkat pelayanan jaringan transportasi. Dengan demikian penerapan TDM juga diharapkan dapat menghasilkan kondisi lingkungan yang lebih baik, meningkatkan kesehatan publik, yang pada akhirnya dapat mendorong kesejahteraan masyarakat dan tingkat kelayakan huni suatu kota.

Beberapa bentuk penerapan TDM yang mungkin dilakukan adalah:

  • Mendorong peningkatan okupansi kendaraan melalui kebijakan ride-sharing, three-in-one, car-pooling dan lain-lain.
  • Menyediakan sarana angkutan umum yang cepat, murah dan nyaman yang dapat menjangkau seluruh bagian kota.
  • Menyediakan fasilitas untuk mendorong penggunaan sarana angkutan tak bermotor seperti jalur sepeda, jalur pejalan kaki yang dapat mengurangi ketergantungan kepada kendaraan bermotor.
  • Menerapkan jam kerja yang lebih fleksibel atau penggeseran waktu kerja (staggering work hours) dan pemisahan waktu kerja dan sekolah untuk mengurangi beban lalulintas pada jam puncak.
  • Membatasi penggunaan kendaraan pribadi melalui penerapan pembatasan plat nomor kendaraan yang dapat dioperasikan pada kawasan atau waktu tertentu.
  • Menerapkan congestion pricing, pengenaan tarif parkir yang tinggi pada kawasan-kawasan CBD untuk memberikan disinsentif bagi pengguna kendaraan pribadi.

Sarana Transportasi Ramah Lingkungan. Sarana transportasi yang dikembangkan untuk mengurangi dampak lingkungan akibat transportasi seperti kebisingan dan polusi udara umumnya mengarah ke penggunaan kendaraan tidak bermotor maupun penggunaan bahan bakar terbarukan seperti sinar matahari, listrik dll.

Bentuk-bentuk moda angkutan yang ramah lingkungan antara lain:

Pedestrian. Penyediaan sarana dan jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan kendaraan pribadi. Jarak optimum yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki umumnya adalah sekitar 400-500 meter.

Bersepeda

Sepeda. Sekarang dikembangkan kelompok-kelompok masyarakat yang mengusung ide penggunaan sepeda sebagai alternatif alat transportasi yang ramah lingkungan seperti gerakan Bike-to-Work (B2W). Sepeda dapat digunakan dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam dan daya jelajah sekitar 1-5 kilometer.

Sepeda Listrik. Alternatif lain dari sepeda manual adalah sepeda yang digerakkan dengan tenaga listrik baterai yang dapat diisi ulang. Di samping lebih hemat biaya, sepeda ini juga tidak menimbulkan kebisingan dalam penggunaannya dibandingkan sepeda motor. Kecepatan berkendaraan maksimum jenis sepeda ini adalah sekitar 40-60 km/jam dengan daya jelajah hingga 60 km.

Kendaraan Hybrid. Adalah kendaraan yang dikembangkan dari bahan yang ultra-ringan tapi sangat kuat seperti komposit. Sumber tenaga kendaraan jenis ini umumnya merupakan campuran antara bahan bakar minyak dan listrik yang dibangkitkan dari putaran mesin kendaraan melalui teknologi rechargeable energy storage system (RESS). Kendaraan jenis ini diklaim sebagai memiliki tingkat polusi dan penggunaan bahan bakar yang rendah.

Kendaraan berbahan bakar alternatif. Beberapa teknologi bahan bakar alternatif seperti biodiesel, ethanol, hydrogen atau kendaraan dengan teknologi yang dapat menggunakan 2 jenis bahan bakar secara bergantian (flexible fuel vehicle).

Kendaraan Hyper Car

Kendaraan hypercar. Kendaraan jenis ini memiliki fitur konstruksi yang sangat ringan, desain yang aerodinamis, penggerak berbahan bakar hybrid dan beban aksesoris yang minimal.

KONSEP PERENCANAAN TRANSPORTASI

 Transportasi adalah perpindahan suatu objek dari satu tempat ke tempat yang lain dengan menggunakan sebuah medium yang dapat berupa kendaraan. Dalam kehidupan sehari-hari tentunya seringkali kita menggunakan transportasi untuk memudahkan pekerjaan kita.


Transportasi itu sendiri dapat terjadi karena adanya perbedaan sumber daya dari wilayah satu dan wilayah yang lainnya. Akibat perbedaan itulah maka terjadi kebutuhan dan ketersediaan. Dengan demikian terjadi interaksi antar kawasan yang digambarkan dengan adanya transportasi.

Sampai saat ini, baik di Indonesia maupun negara-negara maju masih terus mengembangkan sistem transportasi yang aman, cepat, murah, nyaman serta ramah lingkungan.

Namun, ekspektasi tersebut masih menjadi tantangan yang tidak mudah untuk diselesaikan terutama ketika menghadapi masalah seperti kemacetan, jalan yang rusak, polusi udara, suara dan getaran.

Trip Assignment
www.aimsun.com

Metoda analisa yang telah dikembangkan membutuhkan biaya yang mahal serta waktu proses yang lama. Hal ini tidak sesuai untuk negara berkembang, karena ada keterbatasan waktu dan biaya, yang tentunya selalu memerlukan pemecahan dan penanganan masalah transportasi yang bersifat quick-response.

Salah satu metode analisa yang paling sering digunakan adalah 4 tahap model transportasi.

Model ini disebut 4 tahap karena dalam pemodelan tersebut terdapat 4 sub-model yang pemodelannya dilakukan secara terpisah. Hasil yang didapat dari suatu sub-model dapat menjadi masukan untuk sub-model selanjutnya.

Berikut ini adalah penjelasan empat tahap model perencanaan transportasi:

Trip Generation (Bangkitan - Tarikan)

Trip generation adalah adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu zona atau tata guna.
Suatu zona atau tata guna yang dimaksud disini dapat berupa unit permukiman atau bagian wilayah kota (kawasan).
Jenis-jenis perjalanannya (Trip Purpose) biasanya berupa:

  • Home-based work trip (rumah-kantor)
  • Home-based other (rumah-tempat lain)
  • Non-home-based trip (tempat lain-tempat lain)

Perkiraan jumlah bangkitan/tarikan perjalanan dilakukan terhadap suatu zona, sesuai dengan variabel zonanya.
Besar kecilnya Trip Generation dipengaruhi oleh:

  • Intensitas tata guna lahan dan perkembangan pada daerah studi
  • Kondisi sosio-ekonomi dari pelaku perjalanan
  • Kapabilitas dan keadaan sistem transportasi yang ada di daerah studi

Trip Distribution (Distribusi Perjalanan)

Trip distribution adalah pemodelan untuk melihat bagaimana lalu lintas dapat ditimbulkan oleh suatu wilayah itu didistribusikan. Apakah arah pejalanan itu semua menuju satu tempat atau tersebar merata.
Faktor yang menentukan Trip Distribution adalah jumlah perjalanan itu sendiri yang berupa orang, kendaraan, maupun barang yang terjadi di antar zona.
Pada tahap pemodelan distribusi perjalanan ini, tujuan utamanya adalah membentuk Matriks Asal Tujuan untuk Nilai Bangkitan/Tarikan yang telah diperoleh dari Trip Generation.
Distribusi perjalanan juga dapat direpresentasikan dalam bentuk Desire Lines, yang merupakan garis-garis yang menghubungkan antar pusat zona pada suatu peta, dengan ketebalan garis menunjukkan besaran pergerakannya. Dari sini dapat terlihat secara visual lokasi mana saja yang ramai dikunjungi.

Moda Split (Jenis Angkutan)

Interaksi antara dua tata guna lahan dapat dilakukan dalam dua pilihan, pertama adalah dengan menggunakan telepon (atau pos) untuk menghindari terjadinya pergerakan, dan kedua, interaksi yang mengharuskan terjadinya pergerakan.
Pada pilihan kedua, keputusan harus ditetapkan dalam hal pemilihan moda yang berkaitan dengan jenis transportasi yang digunakan.
Moda split adalah pembagian perjalanan ke dalam moda angkutan baik pribadi maupun angkutan umum. Dengan kata lain moda split adalah pemisahan perjalanan berdasarkan jenis angkutan.
Secara garis besar moda angkutan terbagi menjadi 3 yakni :

  • Angkutan Darat (Mobil, Motor, Bus, Kereta Api) 
  • Angkutan Air (Kapal Laut, Boat)
  • Ankutan Udara (Pesawat Terbang, Helikopter)

Faktor yang menentukan Moda Split adalah jenis moda yang tersedia pada daerah studi serta pemilihan moda yang berdasarkan biaya, kemudahan, serta waktu tempuh.

Trip Assigment (Pembebanan Ruas Jalan)

Dalam kasus ini, pemilihan moda dan rute dilakukan bersama-sama. Untuk angkutan umum, rute ditentukan berdasarkan moda transportasi. Untuk kendaraan pribadi, diasumsikan bahwa orang akan memilih moda transportasinya dulu baru rutenya.
Seperti pemilihan moda, pemilihan rute juga tergantung pada alternatif terpendek, tercepat, dan termurah, dan juga diasumsikan bahwa pemakai jalan mempunyai informasi yang cukup (misalnya tentang kemacetan jalan) sehingga mereka dapat menentukan rute terbaik.
Juga untuk pengaturan volume lalu lintas sehingga lalu lintas tidak menumpuk pada satu ruas jalan. Volume lalu lintas pada suatu ruas jalan dapat dialihkan ke ruas jalan lain. Ini untuk menghindari untuk menghindari kemacetan lalulintas dan menghindari terjadinya kemacetan lalu lintas.
Matriks Asal Tujuan akan menjadi faktor inputan dalam pemodelan ini.